Pada 13 Mei 2021 para pimpinan dari masing-masing kantor wilayah (regional office) Associations of Academic Health Centers International (AAHCI) berkumpul secara virtual dalam diskusi Steering Committee AAHCI. Setiap perwakilan membagikan informasi singkat mengenai keadaan institusi masing-masing dan rencana yang akan dilakukan pada tahun akademik yang akan datang. Pertemuan dibuka oleh sambutan dari Dr. Steven L. Kanter, Ketua dan CEO AAHCI, dan Prof. dr. Mohammed Sayegh. Keduanya menyoroti pentingnya kolaborasi internasional. Lebih lanjut, mereka menyebutkan bahwa kolaborasi yang sudah berjalan saat ini sebenarnya dapat lebih diperkuat. Dengan demikian, Prof. Sayegh mendorong pembentukan sub-komite yang lebih kecil untuk membuat roadmap guna merencanakan kolaborasi antar wilayah yang lebih strategis, terarah, dan spesifik.

Selanjutnya, masing-masing perwakilan institusi berbagi tentang kondisi mereka saat ini dan rencana mereka akan tahun akademik yang baru. Semua perwakilan institusi sepakat bahwa pendidikan menjadi isu yang sangat penting, terutama di masa pandemi ini. Dengan demikian, beberapa mengusulkan bahwa kolaborasi yang terarah dan spesifik harus seputar area pendidikan. Isu ini pun digaungkan oleh Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, Koordinator Academic Health System Universitas Indonesia (AHS UI) dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof. Ari memulai diskusi dengan memberikan update mengenai situasi akademis yang dihadapi oleh FKUI saat ini. Beliau menyebutkan bahwa mahasiswa kedokteran preklinik telah menjalani blended learning, artinya kelas diadakan secara daring dan fisik. Pertemuan secara fisik dilakukan terkhusus untuk pembelajaran keterampilan klinis dasar. Untuk mahasiswa klinik, tidak ada masalah yang signifikan karena mereka memang sudah berkegiatan di rumah sakit untuk rotasi klinik. Untuk mereka yang berada dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), ada satu perubahan besar yang terjadi. Sebelumnya, residen diharuskan melakukan penelitian klinis dan menulis skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan PPDS. Namun, “Mereka sekarang diizinkan untuk menulis systematic review and meta-analysis sebagai ganti penelitian klinis,” ujar Prof. Ari.

Pandemi COVID-19 tidak hanya menimbulkan tantangan pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membuat pendidikan kedokteran dipertaruhkan. Prof. dr. Valeria Aoki dari University of Sao Paulo Medical School, berbicara tentang hal ini ketika beliau bercerita mengenai kondisi institusinya. “Setelah pandemi, pendidikan kedokteran menjadi isu yang sangat penting untuk dibahas.” Memang, beralihnya pelatihan medis dari kegiatan fisik ke daring telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas lulusan kedokteran. Prof. Ari menyadari betul persoalan ini. Oleh sebab itu, beliau mengajukan pertanyaan penting dalam pertemuan ini, “Banyak lembaga ternama saat ini menawarkan kursus daring untuk program pendidikan mereka dengan harga yang telah diberikan diskon, tetapi bagaimana luaran peserta didik yang mengikuti kursus during tersebut? Apakah para lulusan akan tetap kompeten setelah menyelesaikan kursus tersebut,” atau setidaknya sama kompetennya dengan lulusan yang sebelum-sebelumnya, ketika kursus tersebut masih diadakan secara tradisional, yaitu pertemuan fisik? Meskipun pertanyaan itu masih harus dibahas dalam pertemuan mendatang, diskusi Steering Committee ini memberikan dorongan untuk lebih memperkuat kolaborasi antar wilayah yang berada di bawah payung AAHCI.

Sesuai dengan gagasan awal tentang pembentukan sub-komite, Prof. Sayegh mengundang anggota dari Steering Committee untuk secara sukarela mengambil bagian dalam sub-komite ini. Ketika pertemuan ditutup, Prof. Sayegh sekali lagi menekankan bahwa sub-komite akan membuat roadmap untuk memperkuat kolaborasi lintas regio yang lebih terarah, strategis, dan spesifik, untuk mengatasi masalah yang diangkat dalam pertemuan ini, khususnya yaitu pendidikan.

 

ditulis oleh:
Asisten Manajer Academic Health System Universitas Indonesia